Dancing Angel
Brraak!
Semua
orang yang ada di ruangan itu menoleh kearah pintu. Tampak seorang perempuan
yang tengah membawa kertas dengan t-shirt
basah penuh keringat sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan,
melirik satu per satu orang yang menatapnya dengan bingung.
“Faya?”
ternyata seseorang mengenalinya.
“Vita,”
sahut Faya mendekati Vita dengan mata basah yang berbinar. Vita memandang heran,
apa yang terjadi dengan teman training-nya
itu.
Faya
membawa gadis itu keluar dengan kertas yang sedari tadi di bawanya itu lalu memperlihatkan
isi dari kertas tersebut.
Kami dari pihak A&W Dance menyatakan bahwa :
Faya
Yudhatama
berhak
mengikuti debut A&W Dance periode 2014/2015
|
“Selamat,
Faya! Lo emang pantas dapatin ini semua! Gue bangga banget punya temen kayak lo!” Vita memeluk Faya dengan erat.
Gadis itu tersenyum bahagia.
“Terimakasih,
Vit. Tanpa dukungan lo, gue juga nggak bakal bisa debut dan lolos audisi secepat
ini.” Faya menggenggam tangan Vita. Air matanya mulai menggenang di pelupuk
matanya .
“Serius,
gue nggak nyangka lo bakal debut secepat ini. Lo udah ngabarin Nana dan yang
lain belum? Terus apa lagi yang bakal lo lakuin disini? Seharusnya lo pindah tempat
latihan, kan?” Tanya Vita dengan runtut. Mendengar hal itu air muka Faya berubah
seketika.
“Ada
seseorang yang pingin gue temui,” jawab Faya sekenanya. “Lo liat dia nggak?”
“Siapa?”
Vita mengerutkan kedua alis hitamnya, membuat matanya terlihat segaris.
“Wait, kalau nggak salah namanya Arlin
Prameswari. Dia trainee yang udah
lolos sekitar dua tahun yang lalu. Lo kenal dia?”
Mendadak
mata segaris Vita membulat. Bibirnya yang tipis seketika terbuka perlahan.
Alisnya kembali menyentuh satu sama lain. “Apa?! Arlin Prameswari?”
Faya
mengangguk. Matanya menangkap seberkas rasa kaget di wajah Vita.
“Emang
ada apa?” tanya Faya hati-hati.
∆ ∆ ∆
Beberapa
menit sebelumnya…
“Kalau
nggak salah, hari itu hari Senin, Senin malam 2 tahun lalu. Di mana para agensi
baru saja menyeleksi trainee yang
akan didebutkan di kemudian hari. Arlin Prameswari yang memang sudah berlatih keras
dari 3 tahun yang lalu lolos dan dia terlihat bahagia sekali hari itu. Gue, Dinda
dan Rosa berniat untuk berpesta di rumahnya. Tapi dia bilang, dia pingin pulang
ke rumah orang tuanya untuk sementara. Keesokan harinya, tiba-tiba gue dapat kabar
dari Rosa bahwa dia telah meninggal ditabrak truk container berpengemudi mabuk dan kata orang-orang, arwahnya sering terlihat
muncul di ruang latihan dance…..” ungkap Vita panjang lebar.
Meninggal?
Arwah?
∆ ∆ ∆
Faya
mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Ia memandang kearah cermin besar di ruangan
dance para trainee yang kosong melompong. Wajar saja, jam sudah menunjukkan pukul
23.00 WIB.
Ia
benar-benar tidak habis pikir. Baru semalam dia melihat sosok Arlin Prameswari di
ruangan ini. Dengan kaos putih polos dan snapback
yang membungkus rambutnya. Ketika Faya yang hampir menangis karena tak sanggup
menari lagi dikagetkan dengan keberadaan Arlin yang secara tiba-tiba datang dan
menari dengan lincah dari setiap sudut tubuh di depan cermin. Bahkan ia masih mengingat
betul kata-kata yang dia ucapkan. Terbekas dengan jelas di benaknya, kata-kata
yang membuatnya berhasil debut bulan depan.
∆ ∆ ∆
Beberapa
hari yang lalu….
“Lo
siapa?” tanya Faya ketika sosok Arlin muncul di depan cermin.
“Lo
nggak kenal gue? Gue terkenal banget di sini.”
“Jangan
bilang ke siapa pun kalau gue nangis.”
“Lo lemah banget.” ejeknya kepada Arlin.
“Apa
lo bilang? Lo pikir ini mudah? Gue tertekan banget. Gimana kalau besok gue nggak
lolos dan harus ngulang tahun depan? Gue bakal ngecewain orang tua dan teman-teman
gue yang sudah dukung gue. Hidup nggak semudah yang lo bayangin.” bentak Faya.
“Lo
tahu, gue juga sempat kepikiran kayak gitu. Sama banget sama yang lagi lo
rasain sekarang. Tapi lo bakal tahu kalau akhirnya gue bisa lolos dan debut
juga.”
“Apa?
Lo lolos? Lantas apa yang lo lakuin di sini? Emang lo pikir ini tontonan? Lebih
baik lo pergi aja deh.”
Hidup adalah rangkaian
perubahan yang spontan dan alami.
|
∆ ∆ ∆
Faya
menghela napas sejenak.
Perlahan
ia berjalan kearah pintu keluar, berniat untuk pulang dan mengistirahatkan diri.
Karena besok bakal jadi hari yang sangat panjang untuknya.
Ketika
ia sampai di perempatan gang Studio
Dance, ia teringat akan sesuatu yang lupa dibawanya. Faya buru-buru berbalik
arah dan meraih ponselnya yang tergeletak di samping sofa. Tak sengaja matanya bertemu
pandang dengan cermin.
Mendadak
ekspresinya berubah. Ia tertegun.
Arlin
Prameswari ada di sana. Terlihat jelas di pantulan cermin.
Dengan seiris senyum di bibir yang terkesan sarkastis tapi tulus. Perlahan bibirnya
membuka.
“Selamat, Faya Yudhatama.”
SELESAI
