Sabtu, 27 September 2014

Cerpen

Diposting oleh Unknown di 22.37 0 komentar
Dancing Angel

Brraak!
Semua orang yang ada di ruangan itu menoleh kearah pintu. Tampak seorang perempuan yang tengah membawa kertas dengan t-shirt basah penuh keringat sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, melirik satu per satu orang yang menatapnya dengan bingung.
“Faya?” ternyata seseorang mengenalinya.
“Vita,” sahut Faya mendekati Vita dengan mata basah yang berbinar. Vita memandang heran, apa yang terjadi dengan teman training-nya itu.
Faya membawa gadis itu keluar dengan kertas yang sedari tadi di bawanya itu lalu memperlihatkan isi dari kertas tersebut.

  Kami dari pihak A&W Dance menyatakan bahwa :
          Faya Yudhatama
           berhak mengikuti debut A&W Dance periode 2014/2015

Vita terkejut dengan apa yang dilihatnya.

“Selamat, Faya! Lo emang pantas dapatin ini semua! Gue bangga banget punya temen kayak lo!” Vita memeluk Faya dengan erat. Gadis itu tersenyum bahagia.
“Terimakasih, Vit. Tanpa dukungan lo, gue juga nggak bakal bisa debut dan lolos audisi secepat ini.” Faya menggenggam tangan Vita. Air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya .
“Serius, gue nggak nyangka lo bakal debut secepat ini. Lo udah ngabarin Nana dan yang lain belum? Terus apa lagi yang bakal lo lakuin disini? Seharusnya lo pindah tempat latihan, kan?” Tanya Vita dengan runtut. Mendengar hal itu air muka Faya berubah seketika.
“Ada seseorang yang pingin gue temui,” jawab Faya sekenanya. “Lo liat dia nggak?”
“Siapa?” Vita mengerutkan kedua alis hitamnya, membuat matanya terlihat segaris.
Wait, kalau nggak salah namanya Arlin Prameswari. Dia trainee yang udah lolos sekitar dua tahun yang lalu. Lo kenal dia?”
Mendadak mata segaris Vita membulat. Bibirnya yang tipis seketika terbuka perlahan. Alisnya kembali menyentuh satu sama lain. “Apa?! Arlin Prameswari?”
Faya mengangguk. Matanya menangkap seberkas rasa kaget di wajah Vita.
“Emang ada apa?” tanya Faya hati-hati.
∆ ∆ ∆
Beberapa menit sebelumnya…
“Kalau nggak salah, hari itu hari Senin, Senin malam 2 tahun lalu. Di mana para agensi baru saja menyeleksi trainee yang akan didebutkan di kemudian hari. Arlin Prameswari yang memang sudah berlatih keras dari 3 tahun yang lalu lolos dan dia terlihat bahagia sekali hari itu. Gue, Dinda dan Rosa berniat untuk berpesta di rumahnya. Tapi dia bilang, dia pingin pulang ke rumah orang tuanya untuk sementara. Keesokan harinya, tiba-tiba gue dapat kabar dari Rosa bahwa dia telah meninggal ditabrak truk container berpengemudi mabuk dan kata orang-orang, arwahnya sering terlihat muncul di  ruang latihan dance…..” ungkap Vita panjang lebar.
Meninggal? Arwah?
∆ ∆ ∆
Faya mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Ia memandang kearah cermin besar di ruangan dance para trainee yang kosong melompong. Wajar saja, jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB.
Ia benar-benar tidak habis pikir. Baru semalam dia melihat sosok Arlin Prameswari di ruangan ini. Dengan kaos putih polos dan snapback yang membungkus rambutnya. Ketika Faya yang hampir menangis karena tak sanggup menari lagi dikagetkan dengan keberadaan Arlin yang secara tiba-tiba datang dan menari dengan lincah dari setiap sudut tubuh di depan cermin. Bahkan ia masih mengingat betul kata-kata yang dia ucapkan. Terbekas dengan jelas di benaknya, kata-kata yang membuatnya berhasil debut bulan depan.
∆ ∆ ∆
Beberapa hari yang lalu….
“Lo siapa?” tanya Faya ketika sosok Arlin muncul di depan cermin.
“Lo nggak kenal gue? Gue terkenal banget di sini.”
“Jangan bilang ke siapa pun kalau gue nangis.”
“Lo lemah banget.” ejeknya kepada Arlin.
“Apa lo bilang? Lo pikir ini mudah? Gue tertekan banget. Gimana kalau besok gue nggak lolos dan harus ngulang tahun depan? Gue bakal ngecewain orang tua dan teman-teman gue yang sudah dukung gue. Hidup nggak semudah yang lo bayangin.” bentak Faya.
“Lo tahu, gue juga sempat kepikiran kayak gitu. Sama banget sama yang lagi lo rasain sekarang. Tapi lo bakal tahu kalau akhirnya gue bisa lolos dan debut juga.”
“Apa? Lo lolos? Lantas apa yang lo lakuin di sini? Emang lo pikir ini tontonan? Lebih baik lo pergi aja deh.”

Hidup adalah rangkaian perubahan yang spontan dan alami.



“Gue? Di sini? Lo mau tau gue disini buat apa? Gue disini buat ngasih tahu seseorang yang sudah ngorbanin waktu tidurnya hanya untuk latihan biar bisa tampil bagus di audisi besok kalau hidup adalah rangkaian perubahan yang spontan dan alami. Jangan melawannya atau menyalahkannya, karena hanya akan menambah beban. Biar saja yang nyata menjadi kenyataan. Biarkan segala sesuatu mengalir dengan sendirinya dengan cara yang lo sukai, karena hidup nggak serumit yang lo bayangin. Lo aja yang buat itu jadi terasa lebih rumit."
∆ ∆ ∆
Faya menghela napas sejenak.
Perlahan ia berjalan kearah pintu keluar, berniat untuk pulang dan mengistirahatkan diri. Karena besok bakal jadi hari yang sangat panjang untuknya.
Ketika ia sampai di perempatan gang Studio Dance, ia teringat akan sesuatu yang lupa dibawanya. Faya buru-buru berbalik arah dan meraih ponselnya yang tergeletak di samping sofa. Tak sengaja matanya bertemu pandang dengan cermin.
Mendadak ekspresinya berubah. Ia tertegun.
Arlin Prameswari ada di sana. Terlihat jelas di pantulan cermin. Dengan seiris senyum di bibir yang terkesan sarkastis tapi tulus. Perlahan bibirnya membuka.
Selamat, Faya Yudhatama.
SELESAI
 

Wonderland Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea